25 April 2009

4 KUADRAN [Mencari Tak Perlu Lagi]


Aisyah bilang :
“4 Kuadran, abang. Semuanya interseksi [inget pelajaran Aritmatika SMP .. halah] Itu yang ada pada abang.

Pada beberapa profesi, kuadran – kuadran ini bahkan saling memecah dan saling ganggu. Tapi 4 Kuadran yang abang punya ... mereka saling rukun. Beradaptasi, bahkan berasimilasi [menghasilkan sesuatu yang baru]

1. Kwadran Sportivitas
My Game is Fair play [tahulah ni olahraga apa yang dimaksud] betapa tim yang bermain fair bisa ‘memenangkan hati’ penonton yang menggila sekalipun. Ada memang ‘main belakang’pengaturan skor, banyak jatuh di kotak penalti, atau jatuh – jatuh yang gak mutu.

Tapi sekali lagi ... team playerlah [baca dlm bhs bisnis : tem work] yang bisa disebut spotrif.

Sementara gaya bermain [tanggo, samba or keberuntungan justru di menit2 terakhir ala Inggris] itu cuma bonus bagi penonton yang haus.

Kuadran ini membuat Abang memahami perbedaan penampilan yang dimiliki Aisyah yang memang berbeda di 2 ruang antara profesi dan dirinya.

2. Kuadran Pejuang  
Disiplin. Strategi dan tingkatan plan.
Kuadran ini membuat pola pikir that you have so sistemic tapi sekaligus ‘dilahirkan’ bersama persiapan lain [rencana lain, persiapan mental sesuai porsi situasi, bahkan diam – diam siap juga dengan jalan keluar bagi prajurit yang habis akal karena habis darah. Mungkin Abang Komandan yang berhati Jendral... ^_^]

Kuadran ini membuat Abang memahami ‘naik – turunnya timbangan’ antara logika dan rasa dari situasi masing – masing peran saat ini.

3. Kuadran Budaya.
Betapa indahnya hasil seni sekaligus ‘indahnya’ apresiator itu sendiri.

1 hasil seni = 1000 makna bagi penikmat seni dengan 1000 sudut pandang. Bahkan sang pembuat karya seni itu sendiri mungkin tidak pernah menyadari bahwa hasil seninya akan bisa di apresiasi dengan begitu luas. Itu namanya indah.

Kuadran ini membuat Aisyah sepakat dengan rasa yang dimiliki Abang.

4. Kuadran Humanis.
Ini adalah ranah dimana manusia memanusiakan manusia. Selayaknya seperti itu. Memahami kebenaran itu, sih biasa.

Tapi kita ... bahkan memahami kesalahan yang pernah orang buat.

‘Mendidik’ orang yang salah bisa dengan cara lain selain menumpahkan ego. Plegmatis ? Nope.... karena kuadran ini sangat bertanggung – jawab. Mengingatkan cara hidup justru saat orang lupa bahwa dia sedang hidup.

Kuadran Humanis inilah yang membuat Abang mengeliminir kekuatan berlebih pada kuadran sebelumnya.

Yang bisa menjadi ego karena prinsip kompetisi pada kuadran 1
Yang bisa ‘melahirkan’ hasrat pembunuh demi tujuan pada kuadran 2
Yang bisa ekslusif karena ingin tidak dimengerti oleh penikmat seni awam 
Yang bisa hidup sendiri di atas keyakinannya dan tidak berfikir untuk orang lain pada kuadran 4


Well...
Peluk hatiku, Bang.

Biarkan Aisyah terbatuk kecil karena hati yang menghangat. That’s You and always be ^-^

No comments:

Post a Comment