24 April 2009

1 + 1 : 2 [Kepingan 2]

TANDEM : Sensasi Di Lempar ke Udara
[hanya Fahri yang tahu maksud tulisan ini]



Leader berada di belakang. Pemula justru nampak seperti pemandu [kasat mata yang mengaburkan]. Kerana pada satu kasus sang pemula hanya punya niat merasakan kegilaan arus angin. Bahkan bau parasut baru hari itu dia tahu. Maka nyawa diikatkan pemula pada ‘seutas’ skill sang Leader.

Bisa jadi pada satu moment sang pemula malah sudah woro – woro pada ratusan orang bahwa hari itu dia akan terjun bebas. Bangga pasti. Menguji gravitasi bumi disaksikan ratusan pasang mata.


So … what about the Leader ?

Pengalaman empiris jadi pegangan ditambah skill pengambilan keputusan yang efektif. Makin bertambah usia ‘ketergantungan hidup’ antara sang Leader dan Pemula… maka semakin ‘menerima’ lah sang Leader dan sang Leader justru bukan pusat perhatian pada symbol ‘ketergantungan hidup’ itu.

Karena symbol kepemimpinan justru diberikan sepenuhnya pada sang Pemula.

Huff … cerita yang telah terbagi itu tadinya ‘di ulur – ulur. Untuk tidak menjadi api bagi yang pertama ‘terpercik’.

Aisyah bilang :
“Beberapa hari saya tidak jawab pertanyaan Abang yang ingin sekali mendengar sepenggal kisah lalu.

Di ulur – ulur supaya Abang sendiri yang tentukan : mau celup ujung jari kaki dulu untuk rasakan seberapa dingin air sungai, atau memutuskan langsung menceburkan diri untuk bersatu dengan alam [kerana jarang – jarang bisa luangkan waktu masuki paru – paru dunia]

Abang bilang :
“Aisyah .. Abang pengen Aisyah memahami betul 1 + 1 : 2”


1 hari setelah cerita itu dibagi sampai 22 April 1 bulan setelah bertemu …

Aisyah bilang :
“Abang benar. 1 + 1 : 2 membuat rasa sayang itu mengalir dengan benar. Makasih, Abang …”

No comments:

Post a Comment