28 May 2009

DAY 4


[Ular ‘menggeliat’ itu bukan marah, tapi … ]

Beberapa hari terakhir Abang bicara tentang meminimalisir benturan.
Bukan menghindari.
Tapi mencoba melogika benturan seperti apa
yang paling menghasilkan efek terkecil agar sumber benturan dan
beberapa range di sekitarnya tidak terlalu merasakan amplitudo getar hebat yang sebenarnya dari awal masih bisa di create dengan kearifan.

Abang …
Tidak kurang 1 bulan terakhir hal yang sama persis sudah Aisyah tanamkan pada otak.

Tapi kemarin @ Day 3 [baca tulisan sebelumnya] hmmm ….
Aisyah jadi ‘ngelantur’ ??? [entahlah ...]

Tq atas pengertian Abang yang menterjemah menjadi :
“Ular sudah menggeliat ya?”

Namun akhirnya terkoreksi menjadi :
“Aisyah … hati-hati ya, sayang. Kita mencoba bermain cantik. Minimalisir benturan”

Itu pesan Abang


Well …
Dalam hidup … Aisyah pernah ‘memanjakan kemarahan’.
Tapi ‘ular menggeliat’ itu bukan kemarahan.

Karena Aisyah tahu :
Marah : ada sesuatu yang ‘lepas’ dari tubuh ketika adrenalin terpompa dan murka terlampiaskan. Lega memang.

Tapi sekaligus membuat sedih.

Ternyata diri kita juga menyimpan bara.

Padahal Aisyah yakin kita tak ingin itu.


Kenapa manusia harus terlahir dengan deposit amarah ?

So …
Abang tahu ... rasa yang kemaren menjelma menjadi energi yang abang bilang ‘menggeliat’.

Dengan menegakkan badan Aisyah bilang :
Itu jealous, abang.

Boleh kan …?

[dari Aisyah yang sayang Bang Fahri]

No comments:

Post a Comment